Minggu, 02 Juli 2017

UHIBBUKA ABI


Waktu, terasa begitu cepat berlalu. Dia meninggalkanku. Dia yang selalu mendukungku, dialah Umiku. Aku mencintaimu, meski ku tak lagi disini.
Dini hari aku berusaha bangun untuk mengawali hari dengan senyum mengembang. Walau hati terasa sesak. Tepat hari ini umi dipanggil oleh Allah. Aku mengingatnya dan tak akan pernah bisa melupakannnya.
Aku anak pertama dari tiga bersaudara. Mempunyai seorang Abang dan seorang Adik yang berusia 5 tahun lebih muda dari aku. Dia tak pernah bertemu umi. Harusnya aku lebih beruntung darinya. Harusnya aku tak sesedih ini. Toh, semua pasti ada perpisahan. Tapi mengapa harus sekarang? Saat aku sangat membutuhkan tempat berbagi segalanya.
“Sudahlah Isla sayang, ikhlasin umi, jangan meratapi terus. Doakan yang terbaik buat umi, kau percaya kan sayang bahwasannya umi itu baik, sholehah, pemurah pasti umi diberi tempat yang terbaik disisi Allah.” Abi membuyarkan lamunanku.
Kata kata itu selalu terucap saat aku sedang benar-benar dibawah. Kini abi adalah sekaligus umi untukku. Kini tumpuan cinta itu ada pada abi. Aku tak ingin kehilangannya.
****
Matahari menampakkan keelokannya. Malu-malu memancarkan sinarnya.
“Assalamualaikum Nak, kenapa wajahmu tak secerah pagi ini?”
Suara itu mengejutkanku, suara yang tak asing lagi ku kenal dan ternyata
“Waalaikumussalam, Eh Ustadzah ndak papa kok ustadzah” Aku tersenyum simpul.
Ustadzah Dyta namanya, beliau adalah guru Bahasa Inggris sekaligus ustdazah yang paling aku suka. Dari cara mengajarnya, cara menyampaikan penjelasan.
“Pasti kamu sedang memikirkan umimu ya?”
Aku jadi teringat masalah yang menyesakkan dadaku.
******
"Abi, siapa dia?" tanyaku pada abi dengan dada bergemuruh. Melihat wanita asing di ruang tamu. Lalu menatap dan tersenyum padaku
Abi mengapa jadi begini? Aku takut kehilangan Abi.
Aku menarik tangan abi dengan lembut menuju kamar yang berada tepat disebelah ruang tamu.
Dengan sabar abi menjelaskan kepadaku,
“Sayang, kenalin beliau calon umi kamu namanya Annisa Fitrah Hana”
“Abi itu siapa? Bisa.... Abi... ulangi.. lagi?” tanyaku dengan nada gugup, kecewa, marah bercampur menjadi satu, setetes air mata pun jatuh.
“Maaf ya sayang abi belum cerita, tapi abi ingin merasakan rumah ini hidup lagi dengan adanya tante Hana”
“Tapi abi tidak bisa gitu, kenapa sih abi? Apa abi diguna-guna?” Aku mendesak.
“Astaghfirullah kenapa kamu bilang begitu sayang? Apa salahnya jika abi ingin punya istri yang bisa merawat, memantau, dan menemani kamu sama adikmu? Cobalah untuk mengikhlaskan umimu.” Abi menitikkan air mata.
Tanpa mengucapkan sepatah kata apapun, aku masuk kedalam kamar, dengan perasaan yang campur aduk aku menangis. Ya Allah cobaan apa lagi ini? Umi andai umi tau abi seperti ini. Lebih baik aku menyusul umi.
Fikiran jelek sempat menggelayuti pikiranku, aku tanpa abi bisa. Jika abii masih kekeh masih mau menikah dengan tante itu, enggak bakalan segan-segan aku bakalan kabur dari rumah ini.
***
Aku kembali pada kesadaranku. Samar-sama kulihat Hpku. Ternyata ustadzah Dyta dan beliau berkata,
“Lho, bukannya baik nak. Jadi kamu ada yang nemenin curhat selain abimu dan Ustadzah, kau tahu kasihani abimu. Ayolah Isla kamu pasti faham dengan kata-kata ustadzah.
Ya Allah dengan segampang itu ustadzah bilang? Ah, sama saja.
***
Hari ini adalah hari kebebasanku, ya aku kabur dari rumah. Udara diperkotaan memang sedikit kotor. Maka dengan uang seadannya aku memutuskan untuk pergi dari kota ini. Aku ingin pergi ke suatu kota, yang banyak yang ada perkebunan tehnya. Lumajang kota tujuan. Dengan rasa campur aduk aku putuskan untuk naik bus entah disana mau kerja apa dan umurku belum cukup kalau bekerja diperusahaan, semoga Allah memudahkan jalanku
Dert dert
“Sayang, maafkan abi. Abi enggak bakal menikah , abi ingin kita bersama seperti dulu dalam suka-duka abi ingin selalu di dekatmu. Kamu pergi kemana sayang? Kenapa kamu tega pergi meninggalkan abi?”
Oh, abi rasa bersalah terus menghantui ku mengapa sih abi, seperti ini. Abi.... Aku ingin abi lepas dari tante itu.
Tut-tut. Hpku berdering, ternyata telfon dari abi.
“Hallo Assalamualaikum sayang, kamu dimana? Pulang sayang abi khawatir. Kamu sekarang dimana? Kata ustadzah Dyta kamu di Lumajang, gimana keadaanmu? Abi susul ya?”
Oh abi... rasa bersalah makin membuatku terpuruk.
*****
Ya Allah dimana ini? Tempatnya indah sekali.
“Isla Sayang”
Suara itu....umii.... ini benar umi kan? Suara lembut itu seolah menarik hati.
“Umi, Isla kangen umi, umi jangan tinggalin Isla, Isla sayang umi. Isla pengen sama umi.”
“umii juga kangen sama Isla sayang, gimana kabar Abi, abang, sama adik kamu?”
“umi, abi udah enggak cinta lagi sama umi. Abi mau nikah lagi mi, abii berubah”
Umi hanya tersenyum tipis,
“sayang, abi kamu cinta sama umi. Cuma abi juga butuh pengganti umi untuk teman curhat, berbagi kisah seperti dulu umi sama abi. Kamu sudah besar sayang kamu tidak kasihan melihat abii harus menghidupi kalian berdua. Sudah saatnya abi menikah sayang umi percaya umi baru kamu bakal sayang sama kamu, abang, dan adekmu. Kamu masih ingat kan pesan umi?
Aku hanya mengangguk.
“Jadilah mata air yang jernih untuk umi, jika kamu baik maka disekelilingmu akan baik, begitu juga sebaliknya. Dan jika kamu sudah sukses jangan jadi kacang yang lupa sama kulitnya. Kamu harus berhati-hati dalam memilih teman, karena orang di dunia ini memiliki berbagai macam sifat. Dan ingat jadikan tujuan hidupmu untuk mencari Ridha Allah” ucapku dan umi bersamaan
“Tapi Mi...”
Umi hanya tersenyum semakin jau semakin jauh hingga lenyap
“Dek, bangun waktnya sholat subuh” suara seorang petugas Masjid membangunkanku
“Umii...”
Astagfirullah hanya mimpi. Abi, aku akan pulang.
                                                          ****
Tut-Tut, Tut-tut. Smartphoneku berbunyi, ah ya... ternyata telefon dari Abi
“Sayang, Abi sudah di depan Masjid, cepat kamu keluar”
“Lho Abi, Tau dari mana aku ada di sini?
“kalau uintuk yang itu biar jadi rahasia abi ok”
Dan ternyata benar, di depan abi sudah menunggu, aku menghampiri abi dan memeluknya dengan erat. Kami berjalan menghampiri mobil sedan berwarna putih dan ternyata didalam ada tante Hana.
“Tante Hana, Assalamualaikum”
“Wa'alaikumussalam”
Abi heran melihatku seperti itu kepada tante Hana.
“Abii, aku mengizinkan abi menikah dengan tante Hana, Kata Umi tante Hana itu baik”
“Kamu benar menyetujui?” tanya abi meyakinkan.
“Ya abi, kapan mau nikah?”
*****
Pagi ini keluarga baru kami akan berlibur ke Kudus Jawa Tengah. Ke desa asal umi Hana, Ya, aku punya umi baru.
Setibanya sampai di rumah umi, aku terkejut. Mengapa ada Ustadzah Dyta?
“Ustadzah kok bisa dirumahnya Umi Hana?” tanyaku.
“Waalaikumussalam lho, gimana ini kok belum tau. Ustadzah kan Keponakan umi baru kamu” begitu penjelasan Ustadzah Dyta.
Kaget bukan main berarti Ustadzah? Setelah mengetahui hal itu aku mengajak abi masuk ke kamar.
“Abi, aku ingin bicara sama abi”
“Oh, mau bicara apa sayang?”
“mendekatlah abi”
Sambil kucium pipi abi,
“Abi, Ana Uhibbuka Fillah, terima kasih untuk 18 tahun ini abi”
************

I Promise anytime you call me it don’t metter where i am i’ll always be there, like you’ve been there. If you need me closer, i’ll be right over. I swear (Harris J- I Promise)